Minggu, 01 Mei 2011

Kisah Syekh Siti Jenar



Menyibak Ajaran
“manunggaling Kawula Gusti”


Dimata para wali, sesungguhnya syekh Siti Jenar adalah seorang wali “murtad”. Ajaran yang di kembangkan dinilai menyimpang dan merusak tatanangagma Islam. Setidaknya itulah cerita yang kita dengar dari mulut ke mulut. Ada yang yang berpendapat bahwa Siti Jenar merupakan tokoh sejarah islam Indonesia. Tentu saja tokoh yang dianggap meyimpang. Namun ada pula yang meyakini bahwa Siti Jenar hanyalah tokoh fiktif.

Siti Jenar Putra Sang Resi


Pada jaman dahulu, tersebutlah sebuah istana di di wilayah Jawa Barat. Rajanya seorang pendeta bernama Resi Bungsu. Dia dikenal sakti mandra guna, orang bilang “tak mempan papak palune pande”. Artinya, kulit Resi Bungsu kebal terhadap senjata apapaun. Setiap ucapanya menganduang tuah, dan kutukanya menjadi kenyantaan. Tetapi apalah artinya sebuah kesaktian dan juga kekuasan, karena sampai saat ini Sang Hiang Widhi belum memberikan putra kepadanya. Karena sangat menginginkan seorang putra, Resi Bungsu melakukan semedi ditepi sebuah danau selama empat puluh hari. Pada tengah malam hari ke empat puluh, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Air di tengah telaga danau bergejolak tinggi dan terus semakin tinggi, bergemuruh bagai gelombang samudera. Sejurus kemudian ikan sebesar lengan orang dewasa melompat tepat didepan Resi Bungsu berada. Bersamaan dengan itu terdengar suara “wahai Resi Bungsu, ambilah ikan didepanmu dan berikan pada istrimu agar dimasak, suruh ia memakanya, dan hendaknya kamu datang setiap hari!”.

Dua bulan kemudian, istri Resi Bungsu merasa bahwa ia telah mengandung seorang bayi. Betapa hati Resi Bungsu mendengar kabar itu. Setiap hari ia berdo`a “semoga saja bayinya laki-laki”, sehingga bisa meneruskan kekuasaanya. Genap sembilan bulan sepuluh hari, istri sang Resi Bungsu melahirkan seorang bayi laki-laki dan diberi nama Ali Hasan. Mengapa ia memberi nama yang kearab-araban, padahal ia beragama Hindu. Nama Ali Hasan merupakan sebuah misteri, seperti pemiliknya yang kelak memilki sejuta misteri.

Sabda Pandeta Ratu

Sejak kecil Ali Hasan di didik di lingkungan Istana tentang berbagai ilmu. Namun diam-diam hati Ali Hasan berontak, ia tak mau terkungkung sendiri di Istana. Ia butuh bergaul dengan dunia luar, karena itu ia mulai melangkahkan kaki keluar Istana dan menemukan teman-teman sebayanya.

Pada suatu hari datang dua orang utusan dari kadipaten, dan menghadap sang Resi Bungsu. Mereka melaporkan tenyang ulah Ali Hasan diluar Istana. Kemudian sang Resi mengutus pengawalnya untuk mencari Ali Hasan, dan menyuruhnya pulang segera ka Istana. Tatapi pengawal itu tidak menemukan keberadaan Ali Hasan. Di Istana sang Resi menunggu kedatanganya sampai tengah malam. Kesal menunggu, akhirnya Resi Bungsu menggunakan ilmu gaibnya untuk mendatangkan Ali Hasan.

Sementara itu ditempat terpisah, Ali Hasan merasakan ada geteran gaib. Ia menyadari kalau ayahnya telah memanggil dan menyaruhnya agar dia segera pulang. Sebenarnyaia enggan untuk pulang, ia ingin bebas mengembara kemana saja tanpa harus dibebani oleh berbagai aturan adat yang berlaku. Disaat sedang berpikir, tiba-tiba Resi Bungsu mengirim getaran gaibnya kembali. Akhirnya malam itu juga ia harus segera pulang ke Istana.

Sesampainya di Istana Ali Hasan lansung menghadap ayahnya. Sang Resi menganggap bahwa anaknya telah menyalahgunakan ilmu kanuragan, tetapi Ali Hasan mengelak bahwa dia telah menyalahgunakan ilmu kanuraganya. Karena yang dilakukan diluar Istana hanya ingin menemukan jati diri “siapakah diriku dan siapakah tuhanku”. Orang melakukan sembahyang tetapi ia tidak mengetahui siapa yang disembahnya, orang melakukan semedi tetapi tidak menyadari yang didekatnya itu setan ataukah Sang Hiang Agung.

Malam terus merayap, udara diluar menuauk tulang. Namundidalam hati mereka mendidih bagaikan kawah candradimuka. Resi Bungsu menganggap bahwa anaknya telah bersikap menentang ajaran agama. Sementara anaknya juga menganggap bahwa dirinya benar. Sang Resi tak dapat menahan amrahnya, ia melancarkan serangan kepada Ali Hasan. Sementara itu Ali Hasan terus menghindari serangan dan coba melarikan diri. Tetapi sang Resi terus mengejarnya sampai di sebuah telaga. Akhirnya Ali Hasan terkena serangan dari sang Resi, tubuhnya terpental dan jatuh ketanah. Dengan kata-kata yang bertuah Sang Resi berkata “jadilah kau seekor cacing!”, dan dalam sekejap tubuh Ali Hasan berubah menjadi cacing. Resi Bungsu mengatakan bahwa ini adalah sebuah hukumun dan juga ujian. Jika kau lulus ujian, maka akan datang seseorang yang sakti dari Timur dan mempunyai kemampuan mengembalikan tubuhmu menjadi manusia kembali.

Pertemuan Ditepi Telaga

Pada suatu katika, Sunan Bonang ingin memberikan pelajaran kepada Sunan Kalijaga tentang ilmu gaib. Sunan Bonang memilih disebuah telaga, karena tempat itu dianggapnya tenang dan nyaman. Mereka menaiki sebuah perahu, tetapi perahu yang dinaikinya bocor. Kemudian sunan Kalijaga mengambil segenggam tanah dari tepi telaga untuk menambal bagian perahu yang bocor.

Di tengah telaga sunan Bonang mulai memberikan pelajaran ilmu gaib kepada sunan Kalijaga. Tiba-tiba ia menghentikan pelajaranya, rupanya ia sedang memasang telinga yang seakan-akan mendengarkan sesuatu. Ia yakin sedang ada yang mendengar dan menyaksikan semuanya. Sunan Bonang lalu menghentikan pelajaranya dan menyuruh kembali ketepi telaga. Setelah sampai ditepi telaga, sunan Bonang lalu mencari sesuatu dan kemudian ia mengambil tanah yang tadi dipakai sunan Kalijaga untuk menambal bagian perahu yang bocor. Ia mengetahui bahwa didalam tanah itu terdapat seekor cacing, tetapi itu bukanlah seekor cacing biasa, ia adalah binatang yang mendapat kutukan.

Sebagai seorang wali, ia mempunyai kedekatan dengan Allah, dan doanya seringkali mustajab. Lalu ia mengumandangkan do`a dalam bahasa Arab dan dipadukan dengan syair-syair Jawa. Dalam hitungan detik, terjadilah keajaiban yang luar biasa, gumpalan tanah liat yang didalamnya terdapat seekor cacing itu tiba-tiba mengeluarkan asap. Dari dalam asap itu muncullah sesosok tubuh manusia, sosok manusia itu tak lain adalah Ali Hasan.

Ali Hasan menceritakan tentang dirinya, dan kenapa sampai ia menjadi seekor cacing. Sunan Bonang menangkap kecerdikan dan kepiawaian Ali Hasan, ternyata ia sangat bijak dalam menilai suatu kebenaran. Kemudian sunan Bonang mengajak Ali Hasan untuk mengerti dan mengajarkan tentang syariat Islam. Ali Hasan kemudian diganti namanya oleh sunan Bonang menjadi “Siti Jenar”, dan disuruh memperdalam ilmu agama Islam di Bagdad, negeri Irak. Disana banyak ulama dan orang-orangyang mumpuni terhadap agama Islam.

Bergabung Dengan Dewan Wali

Di Bagdad Siti Jenar bertemu dengan tokoh-tokoh Islam, terutama ulama sufi. Dari mereka itulah Siti Jenar berguru, mula-mula ia belajar ilmu syari`at dan diantaranya tentang rukun Islam dan rukun iman. Kemudian berkembang mempelajari tentang Al Qur`an dan Al Hadis. Siti Jenar juga belajar tentang ilmu Makrifat dan Hakikat.

Setelah sekian lama berada di Bagdad, akhirnya Siti Jenar hendak kembali ke tanah Jawa. Namun dalam perjalanan ia singgah di Malaka dalam waktu yang cukup lama. Di Malaka, Siti Jenar menjadi ulama besar yang di kagumi ilmunya, terutama ilmu Hakikat dan Tasawuf. Di tempat itu Siti Jenar diangkat menjadi guru agama dengan julukan Syekh Abdul Jalil. Ada juga yang menyebutnya Syekh Jabaranta. Siti berkenalan dengan seorang gadis anak dari orang Gujarat yang kemudian dinikahinya. Dari pernikahanya ia mendapatkan seorang putra yang kemudian diberi nama Datuk Pardhum atau Datuk Bardut.

Perihal kedatangan Siti Jenar ditanah Jawa di dengar oleh sunan Bonang, kemudian ia segera pergi ke Cirebon Girang untuk menemuinya. Sunan Bonang lalu mengajak Siti Jenar untuk pergi ke Demak Bintoro, dan akan diperkenalkan dengan para dewan Wali. Setelah melakukan perjalanan behari-hari, akhirnya sampai juga di Kerajaan Demak Bintoro. Sunan Bonang kemudian mengundang para Wali untuk berkumpul di Istana. Di samping ada kepentingan tertentu, secara tidak langsung dia ingin memperkenalkan Siti Jenar kepada para dewan Wali. Dalam pertemuan itu Sunan Bonang mengutarakan maksudnya untuk mengajak Siti Jenar bergabung dalam Dewan Wali. Setelah mereka berbicara banyak, akhirnya pertemuan Dewan Wali ditutup dan berkesimpulan bahwa Siti Jenar diterima sebagai anggota Dewan Wali, tetapi harus menempuh beberapa syarat.

Manunggaling Kawula-Gusti

Di dalam menyebarkan agama Islam, di Krendhasawa Siti Jenar membangun surau kecil. Disamping untuk sholat berjama`ah juga menampung para santri yang ingin belajar kepadanya. Semakin lama suraunya semakin banyak didatangi orang. Ajaran Siti Jenar lebih menekankan pada filsafat ketuhanan dan filsafat kebenaran. Hal ini berbeda dengan yang disampaikan para wali yang telah mengedepankan syari`at. Pokok-pokok pikiran Siti Jenar yang lebih mengutamakan filsaat ketuhanan dan filsafat kebenaran itu menjurus padsa ajaran Islam yang umumnya disebut ilmu tasawaf. Ajaranya lebih mementingkan pengolahan kalbu (hati) dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang bersifat lahiriah. Ajaran tasawuf yang dikembangkan Siti Jenar dianggap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang penting. Apa lagi ajaran itu didasarkan pada pandangan islam, namun pihak para Wali Sanga menilai ajaran Siti Jenar sesat. Akan tetapi Siti Jenar yang juga dikenal sebagai syekh Lemah Abang itu meyakini bahwa ajaran yang disampaikan kepada murid-muridnya itu benar dan cocok dengan Hakikat ilmu tasawuf islam. Ia merasa bahwa ajaranya tidaklah menyimpang dari Al Qur`an dan Al Hadis.

Layaknya para sufi lainya, Siti Jenar juga memeandang bahwa dunia ini sesuatu yang busuk dan memuakan. Keabanyakan orang-orang sufi menghindari kehidupan duniawi dan memilih kesederhanaan. Karena itu, kepada murid-muridnya Selalu mengatakan bahwa dunia ini adalah kematian. Adapun kehidupan yang sesungguhnya adalah jika seseorang telah menemui kematian. Jadi manusia yang ada didunia ini tak lebih dari bangkai-bangkai yang berjalan. Pemikiran ini sesuai dengan ajaran para sufi yang berkembang di Arab. Paham ini tampaknya aneh dan menyimpang bagi orang islam pada saat itu, orang islam kebanyakan lebih tertarik kepada syari`at saja. Sedangkan menurut ahli tasawuf bahwa islam tidak sebatas syari`at, melainkan ada tingkatan-tingkatan yang wajib ditempuh. Hal itu harus diamalkan secara utuh. Tingkatan peribadatan itu adalah Syari`at, Tarikat, Makrifat, dan Hakikat.

Menurut Siti Jenar, orang islam yang masih awam diibaratkan sebagai kulit kelapa, ilmunya masih berada pada serabutnya. Padahal untuk mencapai air kelapa harus melalaui kulit kelapa, lalu dagingya dan barulah bisa mereguk airnya. Siti Jenar tidak mengajarkan islam secara setengah-setengah, dan justru ia menilai bahwa para wali mengajarkan islam baru pada tahap ilmu serabut kelapa, artinya baru sampai pada kulitnya saja (Syari`at saja).

Salah satu inti ajaran syekh Siti Jenar adalah “Manunggaling Kawula-Gusti” , bahkan kepada murid-muridnya ia seringkali menyatakan bahwa dirinya menyatu dengan Allah. Atau Allah menyatu dalam dirinya. Oleh para walisanga , Siti Jenar dituduh sebagai wali murtad karena ajaranya yang sukar dipahami orang awam. Bahkan ajaran yang dianggap sangat aneh, karena ia mengaku penjelmaan dari Dzat Allah. Inilah yang kemudian timbul tuduhan bahwa ajaranya menyimpang dan menyesatkan. Siti Jenar memberi pengakuan “sedangkan aku adalah penjelmaan dari dzat luhur yang memiliki semangat, sakti, dan kebal akan kematian. Dengan hilangnya dunia, Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganya, dapat langgeang mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukanya akal, bukanya nyawa, bukan penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuanya”.

Syekh Siti Jenar Sang Wali `Murtad`

Paham ajaran Manunggaling Kawula-Gusti menyebar kemana-mana. Syekh Siti Jenar sendiri dalam menyebarkan ajaran isalm dibantu oleh Ki Ageng Penging, Ki Cantula, dan Ki Wibissono. Tuga orang ini merupakan murid andalan yang mampu mempengaruhi masyarakat kala itu. Sesungguhnya ajaranya itu merupakan perkembangan dari ajaran syari`at, artinya apa yang diajarkan oleh walisanga dikembangkan menjadi lebih terperinci dan dipadukan denganilmu tasawuf, sehingga teorinya lebih menekankan pada budi lestari yang kekal selama-lamanya

Sunan yang tergabung dalam dewan wali menuding Siti Jenar adalah wali murtad. Tudingan itu sangat beralasan karena mereka mengaggap menyimpang dari Ij`ma para walisanga dan kias atas Al Qur`an dan Hadits. Sedangkan murid-murid Siti Jenar banyak yang merasa tidak tahan “mati” didunia secara berlama-lama, mereka rindu ajal dan “kehidupan” yang diyakininya sebagai kehidupan abadi. Mereka merasa hidup didunia hanya menderita sial dan bernasib buruk, tidaklah heran jika mereka cenderung melanggar aturan pemerintah agar bentrok, lalu dihukum mati.

SASMITA GAIB

Para sunan yang bergabung dalam dewan walimelakukan pertenuan di masjid Agung Demak. Mereka mengadakan musyawarah untuk membahas tentangajaran Siti Jenar yang menyimpang dari syari`at, akibatnya banyak para pengikutnya yang salah menerjemahkan ilmu Siti Jenar, sehingga mereka menempuh ajal secara keliru. Siti Jenar mengajarkan agama islam langsung pada ajaran Hakikat, “padahal untuk mencapai ilmu Hakikat seseorang harus menempuh syari`at terlebih dahulu. Ilmu syari`at merupakan tirai dari petunjuk dan bimbingan tuhan yang dipakai untuk mencegah perbuatan buruk dan telarang, juga sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan hidup”. Tetapi rahasia itu kini dibongkar oleh Siti Jenar dan disiarkan kepada umum. Rahasia alam semestapun dibuka tanpa tedeng aling-aling kepada sembarang orang.

Para dewan wali berencana mengirimkan utusan menuju krendhasawa menemui Siti Jenar agar ia mau datang ke Demak Bintoro. Dan apabila ia menolak, berilah Sasmita Gaib yang harus dijawab dengan gamblang, jelas dan dapat dimenerti serta berdasarkan dalil Al-Qur`an dan Hadist. Syekh Dumba dan pangeran Tembayat akhirnya pergi ke krendhasawa sebagai utusan dewan wali. Sesampainya disana mereka langsung menemui Siti Jenar dan mengutarakan maksud dan tujuan mereka. Tetapi dengan tegas Siti Jenar menolak untuk memenuhi undangan para wali. Karena tak bisa membujuk Siti Jenar untuk datang ke Demak Bintoro, akhirnya pangeran Tembayat menyampaikan pesan Sasmita Gaib dari sunan Kalijaga yang berupa empat pertanyaan yang harus dijawab dengan jelas.

Pertanyaan itu ialah;

1. Ketika pertama kali Sang Hiang menciptakan alam semesta, dia memakai bahan apa.
2. Tunjukan dimanakah rumah Sang Hyang Widhi.
3. Setiap hari nyawa seseorang terus berkurang hingga akhirnya habis, kemanakah perginya nyawa itu.
4. Bagaimanakah Sang Hiang Maha Agung itu.

Mendengar pertanyaan itu Siti Jenar malah tertawa. Ia menganggap bahwa pertanyaan itu seperti pertanyaan anak kecil, karenanya ia menyuruh muridnya yang bernama Ki Bisono untuk menjawab semua pertanyaan itu.

Ki Bisono mulai menjawab pertanyaan itu; “ Pertama bahwa Allah menciptaka alam semesta adalah kebohongan belaka, sebab alam semesta itu barang baru. Sedang Allah tidak membuat barang berwujad. Dalilnya adalah layaktibiu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang berwujud. Adapun terjadinya alam semesta ini karena menemukan keadaan. Alam semesta ini la awali, artinya tiada berawal”. Ki Bisono tidak meneruskan ucapanya karena harus membongkar dalil dalam Al-Qur`an dan memakan waktu yang cukup lama. Pertanyaan kadua; “Dimanakah rumah Sang Hyang Widhi; Menurutnya ini bukanlah jawaban yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua Dzat. Dzat itulah tempat tinggalnya”. Selanjutnya pertanyaan ketiga adalah berkurangnya nyawa setiap hari sampai habis, lalu kemanakah perginya nyawa itu. “Sesungguhnya nyawa tidak dapat berkurang. Maka nyawa bagaikan jasad, berupa gundukan, dapat rusak, dimakan anai-anai”. Hal inipun panjang sekali jika diuraikan, kata ki Bisono. Lalu ia menjawab pertanyaan keempat; Bagaimanakah rupa Yang Maha Suci itu. “Dalam kitab Ihya Ulumuddin sudah diberi tahu wallahu lahir insan, wa batinul insani baitullah. Artinya ialah manusia itu rupa Hyang Widhi, rupa Yang Maha Suci”.

Pangeran Tembayat dan Syekh Dumba tak segera menyahut, mereka sengaja membiarkan ki Bisono terus berbicara. Sementara itu ki Bisono mulai melecehkan kedua tamu dari Demak Bintoro itu dengan kata-kata yang kurang sopan. “Menurutnya pertanyaan itu ia anggap pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Ibarat membulatkan peuru saja yang hamba tembakan hilang musnah dalam ruang angkasa hampa kosong melompong. Akan tetapi jika diuraikan akan menjadi panjang memenuhi jagat raya. Memang demikianlah ajaran Siti Jenar.

Setelah ki Bisono mengakhiri pembicaraanya, pangeran Tembayat dan Syekh Dumba mohon pamit, namun Siti Jenar tak sepatah katapun menjawab permohonan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan Krendhasawa dengan kecewa karena gagal membujak Siti Jenar untuk ikut ke Demak Bintoro.

Siti Jenar Menggulung Nafas

Di Demak Bintoro terjadi kekacauan karena ulah murid-murid Siti Jenar yang ingin menempuh ajal yang tak wajar, karena itu Raden Patah sangat resah deengan keadaan ini. Raden Patah mengadakan rapat dengan para dewan wali untuk mengatasi masalah ini. Diambil keputusan bahwa pangkal dari semua kekacauan adalah ajaran Siti Jenar, dan Raden Patah membuat surat perintah untuk Siti Jenar agar ia mau dating ke Demak Bintoro. Kalau dia menolak berarti itu adalah pembangkangan terhadap Raja dan hukumanya adalah “Mati”.

Lima wali yang membawa surat perintah ialah sunan Bonang, sunan Kalijaga, Pangeran Modang, sunan Kudus, dan sunan Geseng. Masing-masing wali dari kelima utusan itu membawa empat puluh santri muridnya. Sampailah mereka di Krendhasawa dan langsung menuju rumah Siti Jenar. Tampak Siti Jenar sedang member pelajaran kepada murid-muridnya di mushala. Materi yang diajarkan yaitu mengupas terjadinya Bumi dan Angkasa, dari kitab Tafsir Kaelani.
Sunan Bonang masuk mushala dan mengucapkan salam. Namun Siti Jenar hanya diam, bahkan tak bergeming sedikitpun. Berulang kali mengucapkan salam namuntak ditanggapi, agaknya sunan yang berasal dari Tuban itu hilang kesabaran. Siti Jenar benar-benar tak menghargainya. Sunan Bonang mendekati dan terpaksa melempar surat kepangkuan Siti Jenar. Sebelum Siti Jenar memungut surat itu, tiba-tiba sunan Kalijaga talah mengambilnya, lalu membaca surat itu dengan suara lantang. Walau begitu, seakan-akan tidak ada sesuatu didalam ruang mushala, karena Siti Jenar dan murid-muridnya tak bereaksi sedikitpun.

Siti Jenar dengan tegas mengatakan “sebab aku tidak berada dibawah perintah siapapun kecuali hatiku sendiri. Perintah hati itulah yang kupatuhi dan kuturuti. Selain itu kita sama-sama mayat, mengapa aku harus patuh kepadamu?, mengapa aku harus patuh pada Raja Demak Bintoro?”. Karena itu ia secara diam-diam menempuh “jalan hidup” dengan caranya sendiri. Ia memusatkan pikiranya. Menutup rapat-rapat pintu napas dan menggulung habis rahasia hidupnya. Tak lama kemudian napasnya dilepas bersamaan dengan lepasnya “tali pengikat hidup”. Tanpa ada yang mengetahui, Sti Jenar telah menempuh ajalnya.

Para wali membawa mayat Siti Jenar ke Demak Bintoro, dan memakamkanya disebelah Barat masjid Demak sebagai penghormatan karena ia juga seorang wali. Tentunya seorang wali yang “murtad” dimata para wali, bukan para santri ataupun orang pada umumnya. Karena yang bias menilai hanya para wali yang derajatnya tinggi.


Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua, Salam Cinta Kasih Penuh Dharma.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar